Subnetting Jaringan Komputer Pertemuan 10-11

 

Jurnal Catatan Subnetting Jaringan Ko



mputer



     


 






Kamis, 9 Mei 2024

Nama    : Cikal Gibran Amaro

NPM    : 2215061107

Kelas    : PSTI C


Subnetting 

    Subnetting adalah teknik yang umum digunakan di Internet untuk mengefisienkan alokasi alamat IP didalam sebuah jaringan supaya bisa memaksimalkan penggunaan alamat IP. Teknik ini biasa digunakan oleh administrasi jaringan untuk memecah jaringan yang besar menjadi beberapa jaringan yang lebih kecil. Beberapa keuntungan dari subnetting antara lain adalah: 

1. Mengurangi kongesti (congestion), 
2. Dapat mengisolasi masalah pada satu subnet saja tanpa mempengaruhi subnet yang lain. 
3. Mengurangi penggunaan CPU dengan cara mengurangi jumlah trafik broadcast. 
4. Memperbaiki keamanan. 
5. Dapat menggunakan media yang berbeda pada tiap subnet yang berbeda. 

    Konsep perhitungan subnetting Pada hakekatnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berkisar di empat masalah: Jumlah Subnet, Jumlah Host per Subnet, Blok Subnet, dan Alamat Host dan Alamat Broadcast. Konsep perhitungan subnetting adalah memindahkan garis pemisah antara bagian network dan bagian host dari suatu alamat IP. Sebagaimana digambarkan pada Gambar 1 dibawah ini. 

 

 Gambar 1 Alamat IP Setelah Proses Subnetting


    Beberapa bit dari bagian host dialokasikan menjadi bit tambahan pada bagian network. Alamat satu network menurut struktur baku dipecah menjadi beberapa subnetwork. Cara ini menciptakan sejumlah network tambahan dengan mengurangi jumlah maksimum host yang ada dalam tiap network tersebut. Dalam subnetting terdapat metode CIDR dan VLSM, berikut ini adalah penjelasannya:

CIDR ( Classless Inter-Domain Routing ) 

    Classless Inter-Domain Routing (disingkat menjadi CIDR) yang diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT adalah sebuah cara alternatif untuk mengklasifikasikan alamat-alamat IP berbeda dengan sistem klasifikasi ke dalam kelas A, kelas B, kelas C, kelas D, dan kelas E. Disebut juga sebagai supernetting. CIDR merupakan mekanisme routing yang lebih efisien dibandingkan dengan cara yang asli, yakni dengan membagi alamat IP jaringan ke dalam kelaskelas A, B, dan C. 

    Metode ini menggunakan notasi prefix dengan panjang notasi tertentu sebagai network prefix, panjang notasi prefix ini menentukan jumlah bit sebelah kiri yang digunakan sebagai Network ID, metode CIDR dengan notasi prefix dapat diterapkan pada semua kelas IP Address sehingga hal ini memudahkan dan lebih efektif. Menggunakan metode CIDR kita dapat melakukan pembagian IP address yang tidak berkelas sesukanya tergantung dari kebutuhan pemakai. 

VLSM (Variable Length Subnet Mask )

    VLSM adalah pengembangan mekanisme subneting, dimana dalam vlsm dilakukan peningkatan dari kelemahan subneting klasik, yang mana dalam clasik subneting, subnet zeroes, dan subnet ones tidak bisa digunakan. selain itu, dalam subnet classic, lokasi nomor IP tidak efisien. VLSM juga dapat diartikan sebagai teknologi kunci pada jaringan skala besar. 

    Mastering konsep VLSM tidak mudah, namun VLSM adalah sangat penting dan bermanfaat untuk merancang jaringan. Metode VLSM hampir serupa dengan CIDR hanya blok subnet hasil dari CIDR dapat kita bagi lagi menjadi sejumlah Blok subnet dan blok IP address yang lebih banyak dan lebih kecil lagi. Dalam penerapan IP Address menggunakan metode VLSM agar tetap dapat berkomunikasi kedalam jaringan internet sebaiknya pengelolaan networknya dapat memenuhi persyaratan : 

1. Routing protocol yang digunakan harus mampu membawa informasi mengenai notasi prefix untuk        setiap rute broadcastnya (routing protocol : RIP, IGRP, EIGRP, OSPF dan lainnya, bahan bacaan            lanjut protocol routing : CNAP 1-2).
2. Semua perangkat router yang digunakan dalam jaringan harus mendukung metode VLSM yang             menggunakan algoritma penerus paket informasi. 


Manfaat dari VLSM adalah: 

1. Efisien menggunakan alamat IP, alamat IP yang dialokasikan sesuai dengan kebutuhan ruang host        setiap subnet. 
2. VLSM mendukung hirarkis menangani desain sehingga dapat secara efektif 
3. mendukung rute agregasi, juga disebut route summarization. 
4. Yang terakhir dapat berhasil mengurangi jumlah rute di routing table oleh berbagai jaringan subnets        dalam satu ringkasan alamat. Misalnya subnets 192.168.10.0/24, 192.168.11.0/24 dan                            192.168.12.0/24 semua akan dapat diringkas menjadi 192.168.8.0/21.


Dalam pengalamatan IP terdapat dua metode yaitu classful dan classless, yaitu:

Classfull

    Pengalamatan classfull adalah arsitektur pengalamatan IPv4 yang membagi alamat menjadi lima kelompok. Sebelum pengalamatan classfull, delapan bit pertama dari alamat IP mendefinisikan jaringan dimana host tertentu menjadi bagiannya. Hal ini akan berdampak pada pembatasan internet hanya pada 254 jaringan. Masing-masing jaringan tersebut berisi 16.777.216 alamat IP berbeda. Seiring berkembangnya internet, ketidakefisienan pengalokasian alamat IP dengan cara ini menjadi masalah. Lagi pula, terdapat lebih dari 254 organisasi yang memerlukan alamat IP, dan jauh lebih sedikit jaringan yang memerlukan 16,7 juta alamat IP untuk dirinya sendiri.

Cara Kerja Classfull
    Pengalamatan classfull membagi ruang alamat IPv4 (0.0.0.0-255.255.255.255) menjadi 5 kelas: A, B, C, D, dan E. Namun, hanya A, B, dan C yang digunakan untuk host jaringan. Kelas D, yang mencakup rentang alamat IP 224.0.0.0-239.255.255.255, dicadangkan untuk multicasting , dan kelas E (240.0.0.0-255.255.255.255) dicadangkan untuk “penggunaan di masa mendatang”.

Gambar 2 Tabel Rincian Classful

    Pengalamatan tanpa kelas (Classless) adalah arsitektur pengalamatan IPv4 yang menggunakan subnet masking dengan panjang variabel. Solusinya muncul pada tahun 1993, ketika Classless Inter-Domain Routing (CIDR) memperkenalkan konsep pengalamatan tanpa kelas. Dapat dilihat, dengan pengalamatan classful, ukuran jaringan tetap. Setiap rentang alamat memiliki subnet mask default. Pengalamatan tanpa kelas, bagaimanapun, memisahkan rentang alamat IP dari subnet mask default, memungkinkan subnet mask panjang variabel (VLSM). Dengan menggunakan pengalamatan tanpa kelas dan VLSM, alamat dapat dialokasikan dengan lebih efisien. Hal ini karena admin jaringan dapat memilih masker jaringan, dan pada gilirannya, blok alamat IP dengan ukuran yang tepat untuk tujuan apa pun.

    Pada IPv4 classless, subnetting dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan, sehingga IPv4 classless ini lebih fleksibel dan efisien. Classless ini menunjukkan Sejumlah bit yang digunakan untuk menunjukkan network disebut “prefix length”. Misalkan : 172.16.4.0/30 menunjukkan bahwa 30 bit menunjukkan network address dan sisanya, 2 bit menunjukkan host.

Perbedaan antara Classfull dan Classless
    Perbedaan mendasar antara penggunaan subnet mask classful dan classless terletak pada fleksibilitas dalam alokasi alamat IP. Dalam subnet mask classful, subnet mask ditentukan secara baku berdasarkan kelas jaringan, seperti kelas A, B, atau C, yang membatasi jumlah subnet dan host yang dapat digunakan dalam setiap jaringan. Sedangkan dalam subnet mask classless, pengguna memiliki kebebasan untuk menentukan panjang subnet mask secara bebas, memungkinkan pembagian alamat IP yang lebih efisien dan lebih sesuai dengan kebutuhan jaringan yang spesifik, tanpa terikat pada batasan kelas.

Komentar

Postingan Populer